“Masakan Aku membiarkan engkau,… Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak..” [Hosea 11:8].
Bagi Mike Premo, seorang evangelis, tergelincir kembali adalah suatu cara hidup bagi dia. Mike mulai kehidupan dewasanya sebagai kriminal kecil – kecilan, dan ketika ia menjadi seorang Kristen pada umur awal dua puluhan ia pikir ia telah berubah selama-lamanya. Ia bahkan memilih untuk melayani Tuhan sebagai evangelis. Tetapi godaan sex di luar perkawinan, alkohol, dan obat-obatan menyimpangkan langkah-langkahnya.
Mike mempunyai pola kegiatan yang biasa, yaitu mula-mula berkelakuan baik untuk beberapa tahun, diikuti oleh berpesta pora miras, dan kemudian menghilang. Istri pertama Mike akhirnya memutuskan bercerai. Namun istri keduanya berdoa hingga akhirnya Mike ikut serta dalam suatu program pemusatan pada Kristus yang dikhususkan bagi mereka yang tergelincir kembali.
Selama perjalanan kehidupan spiritual Mike yang berbatuan, ia pelajari dua hal yang merupakan hidup atau mati baginya. Ia belajar bahwa ia tak kuasa terhadap godaan, dan bahwa ia harus bergantung pada kuasa Tuhan ketika ia merasa ditarik ke dalam permasalahan. Ia juga temukan bahwa kasih Tuhan tiada hentinya, dan Dia tidak akan pernah meninggalkan atau membiarkan mereka yang telah mempercayakan diri mereka pada Dia.
“Saya tahu Tuhan menghukum untuk kebaikan”, kata Mike, “dan saya tahu akan kasih Tuhan. Saya puji Dia untuk dua hal ini. Saya berdoa bahwa dalam kelemahan saya kekuatan Tuhan akan menang dan kesaksian saya ini akan menghubungi orang lain yang telah gagal dan sedang mencari harapan”.
Hal yang perlu dicamkan
Oswald Chambers menulis bahwa gereja seharusnya merupakan suatu rumah sakit bagi para pendosa, bukan suatu museum bagi orang suci. Namun demikian, kita sering berharap diri kita sempurna, tetapi kita kaget pada pelintiran dan penyimpangan kita dalam perjalanan sebagai orang Kristen. Allah tidak mempunyai persepsi yang salah akan kemampuan kita untuk membuat kesalahan. Allah tidak menguji pertumbuhan kita. Sebaliknya, ia membiarkan kita berjalan dalam bidang-bidang kelemahan kita hingga kita mengakui ketakberdayaan kita dan mengkomit diri kita pada kuasa transformasi-Nya. Hanya dengan demikian kita mengalami perubahan sejati.
Kita menjadi orang Kristen yang sejati ketika kekuatan Tuhan menguasai kelemahan kita. FBL/
